Senin, 08 Oktober 2012

SEREN TAUN CIGUGUR-KUNINGAN

UPACARA ADAT SEREN TAUN 

Seren Taun adalah upacara syukuran warga (para petani) atas hasil bumi yang diperoleh. acara ini menjadi tradisi yang biasa dilaksanakan setiap tahun di daerah Cigugur - Kuningan, Jawa Barat. SerenTaun biasa dilaksanakan  bertepatan pada tanggal 22 bulan Rayagung, dimana bulan Rayagung adalah bulan terakhir dalam perhitungan kalender Saka Sunda. Seren Taun merupakan sebuah tradisi masyarakat agraris dalam berhubungan dengan Tuhan, dan antar sesama manusia serta alam sekitarnya. melalui ritual ritual sakral sekaligus digelar pula kegiatan kesenian tradisional, sosial dan budaya. Upacara seren Taun adalah sebagai wujud  ungkapan rasa syukur atas berkat dan karunia yang diberikan oleh "Hyang Widhi" kepada para petani selama satu tahun terakhir, dalam mengolah lahan pertanian sehingga dapat diperoleh hasil panen yang bermanfaat bagi kehidupan. Hal tersebut tercermin dari hasil panen yang dipersembahkan berupa segala macam hasil bumi yang berupa 'buah - beuti' (buah buahan dan umbi-umbian) yang bisa dimakan maupun tidak, hasil bumi tersebut diarak oleh warga dari empat penjuru mata angin  yang kemudian bertemu di satu titik utama yaitu di halaman gedung "Cagar Budaya Paseban 351", prosesi arak arakan tersebut biasa disebut dengan 'Ngajayak'. Ada banyak acara dan  ritual yang ditampilkan dalam upacara Seren Taun. di antaranya adalah Pesta Dadung, Damar Sewu, Tari Buyung, Angklung Buncis, Angklung Baduy, dan lain sebagainya. Damar Sewu adalah sebagai gambaran manusia yang mengalami penerangan dalam menjalani kehidupan baik sosial maupun pribadi. Tari Buyung mencerminkan tradisi cara masyarakat sunda di masa lampau dalam mengambil air, sedangkan ketika 'nyuhun' Buyung sambil berdiri di atas kendi melambangkan seperti pepatah "di mana bumi dipijak di situ langit di junjung" . Dan  Pesta Dadung atau sering disebut ritual buang hama adalah sebagai upaya ruwatan antara energi positif dan negatif akan keseimbangan alam. Pada hari puncak acara Di awali dengan upacara Ngajayak. Setiap rombongan dalam arak-arakan ngajayak tersebut terdiri dari beberapa pasangan 'mojang dan jajaka' dimana si mojang membawa padi yang disimpan di atas 'nyiru' dan di payungi oleh jajaka dengan menggunakan payung janur yang dihias sedemikian rupa. selain mojang dan jajaka ada juga ibu-ibu yang 'nyuhun' nyiru yang di atasnya terdapat 'pare geugeusan' (padi yang di iket pada tangkainya, ada pula dalam nyiru tersebut yang berisi 'sangu sabogana' " (nasi uduk yang berbentuk kerucut, menyerupai gunung). Selain ibu-ibu ada juga bapak-bapak yang menari-nari sambil memikul padi dengan menggunakan 'rengkong' (pikulan dari bambu bulat yang diberi lubang kecil sehingga jika digoyang mengeluarkan bunyi). Dan pada barisan terakhir adalah kelompok bapak-bapak yang menggotong 'memeron' (tempat gotongan yang dihiasdan dibentuk hewan maupun manusia) yang di dalamnya berisi buah-beuti. setelah prosesi ngajayak kemudian disusul dengan tari buyng, angklung buncis, angklung kanekes, goong renteng, kemudian diadakan juga doa bersama, dari setiap agama yang diwakili oleh para pemuka agama masing-masing dan pada acara puncaknya sendiri adalah semua warga serta seluruh pengunjung bersama-sama 'Nutu' (menumbuk padi menggunakan lesung dan alu), dan semua pengunjung boleh mengambil semua buah beuti yang ada.
 

Tari Buyung
Dalam Upacara Seren Taun inilah dituturkan kembali kisah kisah klasik pantun serta sastra sunda yang menceritakan tentang perjalanan Pwah Aci (nyi Poh Aci) Sang Hyang Asri dengan sebutan lain adalah Dewi Sri merupakan utusan dari Jabaning Langit diturunkan ke bumi untuk memberikan kesuburan tanah bagi petani.

Rombongan dalam Prosesi Ngajayak

Upacara Seren Tahun ini turut mengundang suku sunda wiwitan lainnya. adalah Suku Baduy Kanekes, yang mempunyai ritual Ngareremokeun yang berarti mempertemukan dan mengawinkan benih padi jantan dan betina. Berikut menampilkan tarian tarian khas baduy. Kemudian ada juga yang menarik untuk diketahui yaitu adanya masyarakat adat  Dayak  Bumi Segandhu Losarang, Indramayu  . Semakin lengkaplah tradisi budaya Indonesia yang layak untuk diketahui, dijaga dan dilestarikan oleh kita semua..
Bapak-bapak sedang memikul Rengkong sambil menari (kiri), padi dan buah beuti (kanan)

Untuk  melihat video seren tahun  anda bisa klik  video seren taun cigugur-kuningan